Betapa rugi orang yang mengorbankan waktu, tenaga, dan harta, namun amalnya lenyap sia-sia. Bukan karena cacat lahiriah, melainkan karena sebersit ingin dipuji yang diam-diam bersarang di dada.
Allah Maha Kaya; Dia tak menerima amal yang terbagi antara ridha-Nya dan pujian manusia. Sedikit riya’ yang dibiarkan, bisa menghapus amal yang tampak menggunung.
{…لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ}
“…Sungguh jika engkau menyekutukan-Nya, niscaya hapuslah amalmu…” [Az-Zumar: 65]
Andai tak ada satu pun yang melihat atau memuji, apakah kita tetap bersemangat?
اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ نُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا نَعْلَمُهُ، وَنَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا نَعْلَمُهُ
(Ya Allah, kami berlindung dari syirik yang kami ketahui, dan mohon ampun atas yang tidak kami ketahui).


